Masih kuingat jelas pertama kali kau menghubungiku..Sembilan April yang lalu, kau meneleponku dan meninggalkan pesan tanpa kutahu siapa dirimu. Kau bilang ingin bertemu denganku. Keesokan harinya, aku meneleponmu, dan kita pun membuat janji untuk bertemu dan bertatap muka. Sungguh senang hatiku ketika kutahu siapa dirimu, walaupun kita belum pernah bertemu. Aku pun langsung menyusun rencana, mencari tahu siapa dirimu dan apa yang kau lakukan untuk hidup. Tiba-tiba saja aku menjadi pengagum beratmu, aku mencari tahu profil dirimu di Internet, sehingga aku memiliki gambaran tentang dirimu, ketika nanti kita bertemu dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk pertemuan kita. Sungguh, aku ingin membuatmu menyukaiku. Kupersiapkan pakaian terbaikku, dan apa yang akan aku katakan kepadamu di pertemuan kita nanti….Oh…malam-malamku menjadi penuh dengan bayangan indah…Mungkinkah..Oh mungkinkah..
Senin, 14 April, jam satu tigapuluh sore, di tempatmu, adalah jadwal janji kita bertemu. Aku tak bisa tidur nyenyak semalaman. Tahukah kamu akan hal itu? Ah..mungkin tidak. AKu memikirkanmu, aku membayangkan apa yang akan terjadi, aku ingin pertemuan kita berjalan dengan mulus….dan pada akhirnya, aku ingin menjadi yang kau pilih…Lima belas menit lebih awal dari waktu janji kita, aku sudah tiba di tempatmu. Sungguh, aku gugup sekali. Tapi aku mencoba untuk tersenyum, berharap itu akan menyembunyikan kegugupanku di hadapanmu. Oh ternyata, di pertemuan kita, kau membawa orang lain untuk bertatap muka denganku. Tak kukira, karena sebenarnya, aku berharap hanya engkaulah yang akan menghabiskan sore denganku. Tapi tak mengapa,…aku tak bisa protes, bukan?
Kau dan dirinya ingin tahu siapa diriku, kau katakan tertarik denganku dari orang lain yang memberi kabar tentang aku padamu. Sungguh, aku merasa tersanjung. Demikian juga dengan aku. Aku merasa tertarik padamu, setelah kita menghabiskan waktu berkata-kata selama empatpuluh menit lamanya. Bersama dirinya yang mendampingimu sore itu, aku dibawanya berkeliling dan memperkenalkan aku pada orang-orang dekatmu, yang mana kau setiap hari menghabiskan waktu bersama. AKu sungguh semakin tertarik padamu. Dirinya pun, sangat baik kepadaku. Membuatku yakin, akulah yang akan kau pilih. Di ujung pertemuan kita, kau berkata akan menghubungiku lagi…Di hari itu dan hari-hari selanjutnya, pikiranku penuh dengan bayangan semu. Mungkinkah..oh mungkinkah? Aku selalu menantimu untuk meneleponku lagi. Aku rindu akan suaramu, aku ingin ketika kau meneleponku, kau katakan hal yang indah di telingaku…
Setiap hari, aku selalu memikirkanmu. Setiap hari pula aku berdoa, “Ya Allah, tolonglah, aku ingin dia memilihku. Tolong, mudahkanlah jalannya….” Aku pun jatuh sakit, karena terlalu banyak memikirkanmu, tanpa ku pernah dengar lagi suaramu sejak pertama kita bertemu. Aku ingin, ketika kau menghubungiku, kau katakan sesuatu yang indah ditelingaku, sehingga sirna punah semua gundah hatiku.
AKu tak tahan, aku ingin mendengar kabar darimu. Maka kutelepon dirimu, di hari Jumat, 25 April kemarin. Kau katakan, akan menghubungiku lagi minggu depan. Tak mengapalah, aku bisa bertahan, sampai minggu depan. Ku katakan pada diriku, kalau begitu, aku masih punya waktu untuk berdoa pada Allah untuk mengabulkan doaku, agar akulah yang kau pilih. Tak disangka tak dinyana, kau meneleponku lagi di hari yang sama, hanya beberapa jam kemudian…Kau katakan…bahwa aku bukanlah yang kau pilih….Setelah kita akhiri pembicaraan pendek kita, akupun seperti tersihir. Tak ada kata yang terucap. Pikiranku tiba-tiba kosong. Benarkah dengan apa yang baru kudengar? Benarkah kau baru saja mengatakan kata-kata yang tak ingin kudengar? Aku terduduk tanpa kata untuk beberapa lama. Aku butuh waktu untuk mencerna akan apa yang baru terjadi. Akhirnya kurasakan, jantungku berdegup kencang, mataku tak berkedip menatap ke depan, kepalaku mulai terasa pening. Kurasakan perih di dadaku. Kau baru saja mematahkan hatiku….kau menghancurkan harapanku,..Oh…Rasanya aku ingin menangis. AKu sungguh kecewa. Ku putar kembali kata-kata yang baru kau katakan di telingaku. Ku ingat-ingat kembali di hari kita bertemu. Aku mencoba mencari, apa yang salah aku lakukan. Aku merasa, aku telah memberikan segala yang kupunya untukmu. Akulah calon terbaik yang harus kau pilih. Baiklah kuakui, aku tidak sempurna. Namun kuingin kau mengerti, aku sungguh gugup hari itu, walaupun tidak terlalu nampak dihadapanmu. Itu adalah pertama kalinya seseorang sepertimu ingin bertemu denganku, setelah sekian lama. Aku tidak punya pengalaman. Aku masih naif dan polos. Kujawab semua pertanyaanmu dengan jujur, mungkin sedikit bias, karena aku tak pandai merangkai kata dan sedikit text booky, berdasarkan apa yang aku baca–tentang apa yang harus kukatakan ketika bertemu dengan orang seperti mu.
Seharian kemarin, aku habiskan waktuku untuk memikirkan dan memutar ulang, apa yang telah kau katakan kepadaku : So we have reached the final decision. We’ve decided to give the offer to the other candidate. However, we’re still interested in you, we will keep your resume, maybe something will come up within next one or two years. Thank you so much for your time, Ok?
Aku merasa kalah. Merasa tersingkir dan tak berdaya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan sisi terbaikku di hadapanmu. Aku jual diriku. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu untuk tidak memilihku, apa yang aku salah lakukan, sehingga aku tahu, untuk tidak mengulangnya lagi, bilamana nanti aku harus bertemu lagi dengan orang seperti mu. Aku juga ingin tahu, siapakah orang yang akhirnya kau pilih? Oh, sungguh beruntungnya dia. AKu ingin berada di posisinya. Namun apa daya, sepertinya keberuntungan bukan dipihakku kali ini..
Pagi ini, aku masih tetap memikirkanmu. Benarkah apa yang terjadi kemarin? Aku masih berharap kau hanya bermain-main denganku, dan suatu hari di minggu depan, kau akan meneleponku lagi untuk mengucapkan kata-kata indah di telingaku. Pada akhirnya, aku pun menyadari bahwa semua benar terjadi. Aku marah. Apa yang salah aku lakukan? Aku sudah berusaha, yang rasanya, semaksimal yang aku bisa. Aku pun sudah berdoa, namun mengapa tak terkabulkan jua. Aku menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua emosi dan beban di dada. Selama ini, aku selalu berusaha, bekerja keras dan berdoa, mengharapkan imbalan yang akan aku terima. Aku merasa gagal. Karena kerja kerasku tak memberiku imbalan yang aku inginkan. Aku pun berpikir, mengapa Allah tak mengabulkan permintaanku? Apa susahnya mengabulkan permintaanku yang sederhana ini? Bukankan Allah Maha Mengabulkan segala doa? AKu ingin akulah yang dia pilih. Namun ternyata tidak…
Akupun mencoba menganalisa, apa yang menyebabkan aku gagal. Karena aku memberikan jawaban yang tidak memuaskan? Mungkin. Setelah kupikir lagi, memang aku bisa memberikan jawaban yang lebih baik di beberapa pertanyaan. Karena caraku berpakaiankah? Mungkin. Aku mencoba tampil serapi mungkin, blouse putih dengan aksen bell bottom sleeves, vest abu-abu dengan aksen bros kecil keemasan, celana panjang karier warna hitam yang baru kubeli dua hari sebelum waktu pertemuan kita, sepatu platform hitam, dan kaus kaki hitam. Kupikir tidak ada yang salah dengan penampilanku, oh ya, baru kuingat, ada sedikit salah: posisi bros kecil itu, yang miring ke kiri, seharusnya miring ke kanan. Karena bahasa tubuhku? Mungkin. Tapi rasanya aku sudah duduk sebaik mungkin, tidak membuat gerakan yang tidak perlu, dan tidak membuat onar. Karena bahasa Inggrisku? Mungkin. Aku tidak pandai merangkai kata. Rasanya seperti menghadapi oral test. Apa yang sebenarnya ingin kukatakan, tidak dapat terucapkan jelas dihadapanmu, mungkin itu yang membuatmu memiliki image yang berbeda tentang diriku. Tapi sungguh, aku lebih baik dari itu. Karena kartu ucapan terimakasih yang kukirimkan padamu? Mungkin. Aku mengirimkannya terlambat. Dan kata-katanya pun kurang mewakili apa yang sebenarnya ingin aku tuliskan. Aku sudah mulai merasa sakit di hari aku menulisnya. Sehingga pikiranku tidak seiring dengan jemari tanganku. Karena aku meneleponmu duluan? Mungkin. Mungkin aku sudah melanggar aturan main yang kau terapkan. Mungkin aku tidak menangkap apa yang kau katakan di akhir pertemuan kita. Kau akan menghubungiku, bukan aku yang menghubungimu. Karena badanku kecil dan tidak meyakinkan? Mungkin. Tapi aku sudah meyakinkanmu kalau aku cukup kuat. Karena aku orang Asia dan berbeda ras denganmu dan orang-orang di sekelilingmu? Ah..tapi masa sih? Karena apa lagi kah? Aku tak tahu…
Setelah emosiku reda dan pikiranku mulai kembali jernih, aku pun menyadari, mungkin Allah sedang berbicara denganku, mengingatkanku untuk tidak takabur, merasa diriku paling pintar, selalu mengharapkan bahwa semua usahaku akan berbuah manis. Allah sedang mengingatkanku akan kata ikhlas dan sabar….Mungkin tanpa kusadari, selama ini aku kurang ikhlas. Aku selalu berharap akan imbalan. Aku juga kurang sabar, karena ingin semuanya berjalan seperti yang kumau, menjadi marah dan kecewa ketika hasil usahaku berada diluar perkiraan. Mungkin selama ini, aku merasa telah menjadi orang yang baik, padahal sebenarnya tidak. Oh…
Ya Allah, maafkanlah hambamu yang lemah ini…
Maafkanlah….
*_*