Iron Man

It’s again, about the all american superhero movie.  The superhero against the terrorists that from my understanding, the origin was from a middle eastern country.  At the beginning, with this kind of opening, I felt skeptic already.  But then as the minutes passed by, I was sucked into the movie.  Tony Stark (played by Robert Downey Jr), is a billionaire industrialist, genius inventor, while performing a weapon test somewhere overseas, he is kidnapped and forced to build a devastating weapon. Instead, using his intellect and inguinity, he builds a hi-tech suit of armor and used it to escape.  Upon returning to America, he refines the armor, and becomes the Iron Man, promising to protect the world.  When he is in captivity, he realizes the weapons that his company produces, are used to kill innocent civilians.  He asks his mentor also his co-partner of the company to stop the production, or convert it to something pro-humanity.  Of course the co-partner refuses the idea.  They make tons of money by producing weapons.

Almost to the end, I found out that the co-partner sold the weapons to the terrorist group and ordered them to capture and kill Tony Stark.  It’s a mutual agreement between them.  The terrorist wanted to have control over Asia, and the co-parter wanted to own the company for himself.  At the end of the movie, the Iron Man won the battle (of course, da nu boga lakon), the co-partner and the terrorists were killed. Rame lah pokona.

But I see something beyond the movie.  Is it possible that the wars nowadays, are also supported by the weapon industries around the world? There’re the market, so there’re must be the suppliers too. And maybe, since the US is the one who is really adamant about the war in the middle east, is it possible that they are the one who produces the weapons and sell them to the terrorists as mentioned in the movie?  You can tell that I was really sucked into the movie, right?

* a little bit of this posting was taken from the official site of Iron Man*

n_n

Comments (3) »

Musim Dingin yang Panjang

Entah karena global warning or something else, musim dingin kali ini rasanya lebih: lama, dingin dan lebat–dibanding musim dingin sebelumnya.  I’ve been living here for 3 years and a little bit more, have been through 4 winters, and this one is the heaviest of all.  Apparently I’m not the only one who feels that way, karena orang2 sini juga merasakan hal yang sama.  It’s getting too much, they say. 

Waktu hari2 pertama disini, @  liat ada weather channel di tivi, channel 16.  @ bilang dalem hati: yak ampyun, yang bener aja ada channel kayak gini.  Bosenin banget, emang siapa yang mau nonton? And I was wrong.  This channel is very very important for us who live in Canada.  Kalo di Indonesia kan musimnya cuman 2: musim hujan ama musim kemarau.  Jadi yang perlu diketahui cuma 2: apakah perlu bawa payung ato ngga, dan variasi suhunya kecil.  Kira2 hari ini ga beda jauh lah sama hari kemaren, gitu kali.  Tapi kalo disini, musimnya ada empat, dan tiap hari variasi suhunya bisa significant.  Apalagi buat musim dingin, wadoh…weather channel jadi favorit deh.  Sebelom berangkat kemana2, wajib fardhu ‘ain buat liat channel 16 supaya ga saltum, suhunya berapa pagi ini, siang berapa dan sore berapa, kalo yang aktif di malam hari musti juga liat suhu buat malam hari, kalo pagi dew point berapa, juga ga lupa buat liat kecepatan angin.  Karena kalo musim dingin, anginnya ini yang bikin dingin luar biasa (wind chill).  Bisa jadi suhu sebenernya ‘cuma’ -10, tapi karena ada windchill, suhunya jadi drop ke - 20.  Kalo dah gitu, semua bagian tubuh kecuali muka musti dibuntel habis kayak leupeut.  Kita yang tinggal di Southwestern Ontario aja udah dingin kayak gini, gimana kalo yang tinggal di Utaranya Canada? Yeah, good luck for them.  @ pernah liat (di weather channel tentunya) suhu di atas sana bisa sampe -60C!  Jadi orang2 Eskimo tuh hebat dong ya, mereka bisa bertahan hidup di cuaca yang ekstrim kayak gitu. Jualan kulkas ga laku kalik.

Tahun lalu, @ masih inget, waktu itu siang, musimnya lagi pergantian dari gugur ke salju, matahari bersinar waktu @ berangkat dari rumah.  Tapi waktu nyampe ke parking lotnya mall, mulai deh hujan turun.  Untung @ bawa payung.  Tapi ga lama kemudian, ice pellets mulai pada turun, kira2 lima menit kemudian, saljunya turun.  Geee…what a phenomenon! Semuanya itu @ saksiin sendiri, soalnya jarak dari bus stop ke mall lumayan juga, padahal cuma dipisahin sama parking lot, tapi karena disini kebanyakan tanah, jadinya parking lotnya gedee banget.  Subhanallah..!

Wokeh, balik lagi ke cerita musim dingin kali ini.  Beberapa kali kita ngalamin winter storm.  Salju turun lebat sekale, ditambah angin kencang dan lama, alias bisa sehari dua hari badainya baru berenti.  Buat anak2 sekolah, mereka sih seneng aja, soalnya kan sekolahnya tutup jadinya, dibilangnya snow day.  Tapi buat para pekerja, wah…bisa kolaps ekonomi kalo banyak libur cuma karena winter storm. Wether they like it or not, they have to deal with it, and go to work as if nothing happens.  Banyak diberitain kecelakaan di jalan raya.  Yang paling mengenasken yaitu berita tentang seorang ibu yang meninggal ketabrak truk pembersih salju.  Ceritanya hari itu cuaca buruk sekali, white out, visibility nearly zero.  Si ibu ini nyetir mobil bareng anak2nya yang masih kecil.  Di suatu jalan, dia setop mobilnya buat ngebersihin jendela belakang yang ketutupin salju.  So dia turun, dan pergi ke belakang mobil.  Tiba2 dari belakang datang truk salju dan nabrak si ibu sampe meninggal di tempat.  Kata driver truknya, dia ga liat ada orang di depan saking putihnya pandangan.  Yang kasian anak2 si ibu ini yang ngeliat ibunya dying right before their eyes…And this accident happened just a week before last x-mas. 

Setelah stormnya beres, yang tertinggal adalah…gunungan salju!  By municipal law, orang yang tinggal di residents dan business places, mereka harus ngebersihin drive waysnya mereka plus sidewalks di depan rumah/businessnya.  Kalo ngga dibersihin atau mereka males, bakalan didenda lumayan banyak.

Dahulu kala, @ suka baca serial Laura Ingals.  Kesukaan ini ditularin sama TD, yang mana doi suka sekali baca segala macem, yang penting ada tulisannya.  Salah satu judul bukunya ya ini : Musim Dingin yang Panjang.  Waktu baca buku itu, kayaknya asiiikk…banget ngebayangin mereka tinggal di pondok yang ada perapiannya, bikin sirup maple beku pake salju yang bersih, tokoh Ma yang kebayangnya jago masak makanan yang enak-enak, sama cerita musim dingin yang sampe tujuh bulan lamanya sampe rasanya @ ikutan merasa kedinginan pas bacanya.  Yep, aku ngrasain sekarang, walaupun cuma bagian musim dingin yang panjangnya doang.  Rumahku ga ada perapiannya, @ juga ga jago masak kayak si Ma, dan belom pernah nyobain sirup maple beku yang pake salju.  Tapi rasanya ngeluh juga ga ada gunanya.  Mau teriak2 protes juga, alam ga akan dengerin.  Kalo siklusnya belom beres, ya jalan terus…*tarik maass…*

disclaimer: seharusnya tulisan ini dipost sebulan yang lalu, tapi karena kesibukan yang tidak jelas, jadi terbengkalai.  Sekarang sih di sini udah masuk sepring. Asik..

n_n

Comments (6) »

Beginikah rasanya..

Masih kuingat jelas pertama kali kau menghubungiku..Sembilan April yang lalu, kau meneleponku dan meninggalkan pesan tanpa kutahu siapa dirimu.  Kau bilang ingin bertemu denganku.  Keesokan harinya, aku meneleponmu, dan kita pun membuat janji untuk bertemu dan bertatap muka.  Sungguh senang hatiku ketika kutahu siapa dirimu, walaupun kita belum pernah bertemu.  Aku pun langsung menyusun rencana, mencari tahu siapa dirimu dan apa yang kau lakukan untuk hidup.  Tiba-tiba saja aku menjadi pengagum beratmu, aku mencari tahu profil dirimu di Internet, sehingga aku memiliki gambaran tentang dirimu, ketika nanti kita bertemu dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk pertemuan kita.  Sungguh, aku ingin membuatmu menyukaiku.  Kupersiapkan pakaian terbaikku, dan apa yang akan aku katakan kepadamu di pertemuan kita nanti….Oh…malam-malamku menjadi penuh dengan bayangan indah…Mungkinkah..Oh mungkinkah..

Senin, 14 April, jam satu tigapuluh sore, di tempatmu, adalah jadwal janji kita bertemu.  Aku tak bisa tidur nyenyak semalaman.  Tahukah kamu akan hal itu? Ah..mungkin tidak.  AKu memikirkanmu, aku membayangkan apa yang akan terjadi, aku ingin pertemuan kita berjalan dengan mulus….dan pada akhirnya, aku ingin menjadi yang kau pilih…Lima belas menit lebih awal dari waktu janji kita, aku sudah tiba di tempatmu.  Sungguh, aku gugup sekali.  Tapi aku mencoba untuk tersenyum, berharap itu akan menyembunyikan kegugupanku di hadapanmu.  Oh ternyata, di pertemuan kita, kau membawa orang lain untuk bertatap muka denganku.  Tak kukira, karena sebenarnya, aku berharap hanya engkaulah yang akan menghabiskan sore denganku.  Tapi tak mengapa,…aku tak bisa protes, bukan? 

Kau dan dirinya ingin tahu siapa diriku, kau katakan tertarik denganku dari orang lain yang memberi kabar tentang aku padamu.  Sungguh, aku merasa tersanjung.  Demikian juga dengan aku.  Aku merasa tertarik padamu, setelah kita menghabiskan waktu berkata-kata selama empatpuluh menit lamanya.  Bersama dirinya yang mendampingimu sore itu, aku dibawanya berkeliling dan memperkenalkan aku pada orang-orang dekatmu, yang mana kau setiap hari menghabiskan waktu bersama.  AKu sungguh semakin tertarik padamu.  Dirinya pun, sangat baik kepadaku.  Membuatku yakin, akulah yang akan kau pilih.  Di ujung pertemuan kita, kau berkata akan menghubungiku lagi…Di hari itu dan hari-hari selanjutnya, pikiranku penuh dengan bayangan semu.  Mungkinkah..oh mungkinkah?  Aku selalu menantimu untuk meneleponku lagi.  Aku rindu akan suaramu, aku ingin ketika kau meneleponku, kau katakan hal yang indah di telingaku…

Setiap hari, aku selalu memikirkanmu.  Setiap hari pula aku berdoa, “Ya Allah, tolonglah, aku ingin dia memilihku.  Tolong, mudahkanlah jalannya….”  Aku pun jatuh sakit, karena terlalu banyak memikirkanmu, tanpa ku pernah dengar lagi suaramu sejak pertama kita bertemu.  Aku ingin, ketika kau menghubungiku, kau katakan sesuatu yang indah ditelingaku, sehingga sirna punah semua gundah hatiku.

AKu tak tahan, aku ingin mendengar kabar darimu.  Maka kutelepon dirimu, di hari Jumat, 25 April kemarin.  Kau katakan, akan menghubungiku lagi minggu depan.  Tak mengapalah, aku bisa bertahan, sampai minggu depan.  Ku katakan pada diriku, kalau begitu, aku masih punya waktu untuk berdoa pada Allah untuk mengabulkan doaku, agar akulah yang kau pilih.  Tak disangka tak dinyana, kau meneleponku lagi di hari yang sama, hanya beberapa jam kemudian…Kau katakan…bahwa aku bukanlah yang kau pilih….Setelah kita akhiri pembicaraan pendek kita, akupun seperti tersihir.  Tak ada kata yang terucap.  Pikiranku tiba-tiba kosong.  Benarkah dengan apa yang baru kudengar?  Benarkah kau baru saja mengatakan kata-kata yang tak ingin kudengar? Aku terduduk tanpa kata untuk beberapa lama.  Aku butuh waktu untuk mencerna akan apa yang baru terjadi. Akhirnya kurasakan, jantungku berdegup kencang, mataku tak berkedip menatap ke depan, kepalaku mulai terasa pening.  Kurasakan perih di dadaku.  Kau baru saja mematahkan hatiku….kau menghancurkan harapanku,..Oh…Rasanya aku ingin menangis.  AKu sungguh kecewa.  Ku putar kembali kata-kata yang baru kau katakan di telingaku.  Ku ingat-ingat kembali di hari kita bertemu.  Aku mencoba mencari, apa yang salah aku lakukan.  Aku merasa, aku telah memberikan segala yang kupunya untukmu. Akulah calon terbaik yang harus kau pilih. Baiklah kuakui, aku tidak sempurna.  Namun kuingin kau mengerti, aku sungguh gugup hari itu, walaupun tidak terlalu nampak dihadapanmu.  Itu adalah pertama kalinya seseorang sepertimu ingin bertemu denganku, setelah sekian lama.  Aku tidak punya pengalaman.  Aku masih naif dan polos.  Kujawab semua pertanyaanmu dengan jujur, mungkin sedikit bias, karena aku tak pandai merangkai kata dan sedikit text booky, berdasarkan apa yang aku baca–tentang apa yang harus kukatakan ketika bertemu dengan orang seperti mu. 

Seharian kemarin, aku habiskan waktuku untuk memikirkan dan memutar ulang, apa yang telah kau katakan kepadaku : So we have reached the final decision.  We’ve decided to give the offer to the other candidate.  However, we’re still interested in you,  we will keep your resume, maybe something will come up within next one or two years.  Thank you so much for your time, Ok?

Aku merasa kalah.  Merasa tersingkir dan tak berdaya.  Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan sisi terbaikku di hadapanmu.  Aku jual diriku. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu untuk tidak memilihku, apa yang aku salah lakukan, sehingga aku tahu, untuk tidak mengulangnya lagi, bilamana nanti aku harus bertemu lagi dengan orang seperti mu.  Aku juga ingin tahu, siapakah orang yang akhirnya kau pilih? Oh, sungguh beruntungnya dia.  AKu ingin berada di posisinya.  Namun apa daya, sepertinya keberuntungan bukan dipihakku kali ini..

Pagi ini, aku masih tetap memikirkanmu.  Benarkah apa yang terjadi kemarin? Aku masih berharap kau hanya bermain-main denganku, dan suatu hari di minggu depan, kau akan meneleponku lagi untuk mengucapkan kata-kata indah di telingaku.  Pada akhirnya, aku pun menyadari bahwa semua benar terjadi.  Aku marah.   Apa yang salah aku lakukan?  Aku sudah berusaha, yang rasanya, semaksimal yang aku bisa.  Aku pun sudah berdoa, namun mengapa tak terkabulkan jua.  Aku menangis sejadi-jadinya.  Menumpahkan semua emosi dan beban di dada.  Selama ini, aku selalu berusaha, bekerja keras dan berdoa, mengharapkan imbalan yang akan aku terima.  Aku merasa gagal.  Karena kerja kerasku tak memberiku imbalan yang aku inginkan.   Aku pun berpikir, mengapa Allah tak mengabulkan permintaanku? Apa susahnya mengabulkan permintaanku yang sederhana ini? Bukankan Allah Maha Mengabulkan segala doa? AKu ingin akulah yang dia pilih.  Namun ternyata tidak…

Akupun mencoba menganalisa, apa yang menyebabkan aku gagal.  Karena aku memberikan jawaban yang tidak memuaskan?  Mungkin.  Setelah kupikir lagi, memang aku bisa memberikan jawaban yang lebih baik di beberapa pertanyaan.  Karena caraku berpakaiankah? Mungkin.  Aku mencoba tampil serapi mungkin, blouse putih dengan aksen bell bottom sleeves, vest abu-abu dengan aksen bros kecil keemasan, celana panjang karier warna hitam yang baru kubeli dua hari sebelum waktu pertemuan kita, sepatu platform hitam, dan kaus kaki hitam.  Kupikir tidak ada yang salah dengan penampilanku,  oh ya, baru kuingat, ada sedikit salah: posisi bros kecil itu, yang miring ke kiri, seharusnya miring ke kanan.  Karena bahasa tubuhku? Mungkin. Tapi rasanya aku sudah duduk sebaik mungkin, tidak membuat gerakan yang tidak perlu, dan tidak membuat onar.  Karena bahasa Inggrisku? Mungkin.  Aku tidak pandai merangkai kata.  Rasanya seperti menghadapi oral test.  Apa yang sebenarnya ingin kukatakan, tidak dapat terucapkan jelas dihadapanmu,  mungkin itu yang membuatmu memiliki image yang berbeda tentang diriku.  Tapi sungguh, aku lebih baik dari itu.  Karena kartu ucapan terimakasih yang kukirimkan padamu?  Mungkin.  Aku mengirimkannya terlambat.  Dan kata-katanya pun kurang mewakili apa yang sebenarnya ingin aku tuliskan.  Aku sudah mulai merasa sakit di hari aku menulisnya.  Sehingga pikiranku tidak seiring dengan jemari tanganku.  Karena aku meneleponmu duluan? Mungkin.  Mungkin aku sudah melanggar aturan main yang kau terapkan.  Mungkin aku tidak menangkap apa yang kau katakan di akhir pertemuan kita.  Kau akan menghubungiku, bukan aku yang menghubungimu.  Karena badanku kecil dan tidak meyakinkan? Mungkin.  Tapi aku sudah meyakinkanmu kalau aku cukup kuat.  Karena aku orang Asia dan berbeda ras denganmu dan orang-orang di sekelilingmu? Ah..tapi masa sih?  Karena apa lagi kah? Aku tak tahu…

Setelah emosiku reda dan pikiranku mulai kembali jernih, aku pun menyadari, mungkin Allah sedang berbicara denganku, mengingatkanku untuk tidak takabur, merasa diriku paling pintar, selalu mengharapkan bahwa semua usahaku akan berbuah manis.  Allah sedang mengingatkanku akan kata ikhlas dan sabar….Mungkin tanpa kusadari, selama ini aku kurang ikhlas.  Aku selalu berharap akan imbalan.  Aku juga kurang sabar, karena ingin semuanya berjalan seperti yang kumau, menjadi marah dan kecewa ketika hasil usahaku berada diluar perkiraan.  Mungkin selama ini, aku merasa telah menjadi orang yang baik, padahal sebenarnya tidak.  Oh…

Ya Allah, maafkanlah hambamu yang lemah ini…
Maafkanlah….

 *_*

Comments (6) »

A Night To Remember part un

 Here’s the prologue:

We have a new neighbour right to the  left wall of  our room. He just moved in about 4 months ago into this building, and he likes to invite his friends over.  Apparently, they’re musicians, or something like that.  So they like to play music, a lot.  Well, I don’t mind about that, if they do it in the proper time.  La ini, they played music OUT LOUD!  As if they lived in a music studio and nobody lived around. Grrr…hhhh!! The things that made me mad so much when they played their music with sound system—until late night.  There was time they did that past midnight.  So, that was really annoying.  Good thing that some policemen came to the building to shut them off (another neighbour told us)—and we had a peaceful life, not for a long time, though.

I thought these guys had learnt from their experience with the cops.  Instead, they did it again! (like britney spears’s song).  One night, February 5, I was alone, mc already left to work.  The neighbour were playing their music again.  I said to myself: Oh well, hopefully they’ll stop before 11, max.  My wish was unfulfilled.  They kept making the noises, and when I checked the clock, it was 11.20 pm! I knew that they were drunk too.  Even worse, they started  thumping the floor and my room became the echo chamber for the noises.Ohh…that’s it! I got to call the cops.  I wouldn’t let these ignorant people disturbing my quite time.  So I called the Waterloo Region police dept (I didn’t call the 911#, considering it wasn’t an emergency, and  didn’t want the cops, altogether with EMS and fire depts to show up), talked with an operator and told her about the situation.  So I stayed up past midnight waiting for the cops to come and hoping the cops would bust the neighbour when they were still in the middle of the party, but (unfortunately?) they stopped making the noises around 11.30 pm and his friends already left the place.  About 12.15 am (finally) they arrived, 3 of good looking ones.  They came too late anyway, I really liked to tell them so. I was very sleepy and after I showed them the neighbour’s door, I went back to my room, trying to eavesdrop, hehehe.  I heard one of the cops knocking the door.  No response.  Then he tried again.  This time I heard the neighbour opened it, and talked to the cop.  I heard the cop saying that he got a lot of complains for the noise and warned him not to repeat it again.  The neighbour was behave, apparently, he apologized and that was it.  No arrest made.  I was hoping the cops would take his guitar and the sound system and handcuffed the man and put him in jail.  I stayed awake until no sounds heard again in the hallway, and the cops had walked out of the building.  That night, I think I was too sleepy to remember and take the moment as something extraordinary.  Because, I never dealt with a cop before in my entire life–for a criminal case, of course.  And there I was, calling for cops and reporting about the noisy neighbour.  Oh!

In the morning when mc came home, I told him what happened. He put his arms around me and apologized for not being there and let me dealt alone with the situation. I said that was fine, maybe the neighbour himself was a good guy, but his friends the ones who made the noises, didn’t care because they don’t live here. It’s Canada afterall, I trust Canadian police and I have no fear with them, as long as I am at the innocent side. :D.  Good thing that we are allowed to file a report if our privacy is disrupted by neighbours.

Since then, the neighbour has been pretty behave.  He and his friends still play music, though, but no more past midnight.  They still get drunk, but at least not passing the limit that makes me have to call the cops again. I’ve met the neighbour twice in the hallway, and just for the hospitality, we exchanged hi’s.  He was a skinny-full-tattoed-body type of guy, and looked like a junky, with long hair.  Hmm..not an ideal kind of neighbour we want to have for a long time.  Hopefully soon we can move out from here and buy a  house.  Until that happens, hopefully this guy will move out before us. Hehehe…

 n_n

Comments (2) »

Listen

When I ask you to listen to me,—And you start giving me advice,—You have not done what I asked.

 When I ask that you listen to me,—And you begin to tell me why I shouldn’t feel that way,—You are trampling on my feelings.

When I ask you to listen to me,—And you feel you have to do something to solve my problems,—You have failed me,—strange as that may seem

Listen:  all I ask is that you listen,—Not talk, or do—just hear me.—When you do something for me—That I need to do for myself,—You contribute to my fear and feelings of inadequacy.

But when you accept as a simple fact—That I do feel what I feel—no matter how irrational,—Then I can quit trying to convince you—And go about the business—Of understanding what’s behind my feelings.

So,—please listen and just hear me—And,—if you want to talk,—Wait a minute for your turn–and I’ll listen to you.

taken from: Communication, Purple mod.

n_n

Comments (4) »

Asik libur (cuma sehari)!

Mau nulis apa yah.   Hari ini hari terakhir buat Mod.5, besok libur sehari, Jumat masuk lagi, dan Sabtu libur lagi.  Biasalah, tiap satu mod berakhir, kita dapet satu hari libur, buat siap2 masuk ke mod selanjutnya.  Cuma libur yang sekarang ga asik, hari Jumatnya jadi hari kejepit (I doubt it if my friends at school take it as ‘hari kejepit’ too—they just groaned: it sucks! LoL). 

n_n

Comments (4) »

It’s Friday!

Hey..what’s so special about it? 

Of course it’s special, at least for me.  Because tomorrow’s gonna be Saturday, and that’s weekend, right?

Right.  So what?

Yea, weekend is the time for me and mc.  Just the two of us.  We use to go to a mall, either Fairview or Conestoga, and have our lunch there.  Just spend the time together.  Because during the week, we literally only see each other few hours in a day.  He works night, and when he comes home in the morning, after he cleanses himself and eats his breakfast, he’ll go to sleep, while I have to go to school later on.  Then after I come home, we spend the evening for a couple of hours and then after he eats his supper, he’ll go back to sleep, before he goes to work again.  Just to catch up at least 7 hour-sleep a day….That’s why I’m so happy about weekend.  Beside, I can take a break from the school stress load. ;)

But sometimes he works on Saturday too, right?

… I know.  Sometimes I want to tell him to stay home, don’t go.  He works enough during the week.  But I understand that he has lot of things to do at work.  He’s really a good guy–knows his responsibility and he takes it seriously.  Yet, he’s a good husband too, a generous one.  Hahaha…which is really important for me since I like shopping. (whoopsy!)

You’re not a shopaholic, are you?

God, no! I’m not that bad….mc knows my weakness, and I try hard too, not to complicate it.

I see.  Then what will you do for tomorrow?

Well,…hmm.  I’ll do some errands in the morning, then we’ll go to Fairview.  I need to pick up my parcel at Sears anyway.  It’s shoes!  *giggling*

Shoes?? Again?!

Yes.  I couldn’t help it! They looked so cute and were on sale too! You know my self defence is nowhere around when it comes to sale…Beside, say if they don’t fit me, I can just return them and get refund, right? That’s the good thing about shopping here.

Oh boy, you just never learn from your mistakes. Do you?

Hehehhe….no comment!

n_n

No comment »

Oh Noooo….!

Maluin banget deh ah.  Jadi gini, hari ini kan ada acara x-mas party buat  The MacNeils.  So mc (mon cherie) and I had to go there too.  Dari malem udah sibuk bikin berry cheesecake (ceritanya biar ga lenggang kangkung banget, gitu).  Paginya nyiapin baju yang mau dipake.  I had to prepare the clothes for mc too, made sure he dressed up properly, you know, sometimes man doesn’t care what they’re wearing ;).  Aku ceritanya milih make sweater ketat turtle neck warna item, sama celana jeans.  Kata mc aku keliatan sophisticated kalo pake sweater itu.  So yah, dengan pedenya aku dateng to the party and haha hihi sama yang laennya.  Semua anggota keluarga MacNeil was there .  Kebanyakan dari mereka cuma aku liat 2x setaun, Thanksgiving sama X-mas doang.  Aku juga sibuk poto sana poto sini, soalnya gramma ngasih assignment to take pictures as much as possible for her.  Pas jamnya sholat Ashar, mc sama aku pamitan dulu buat sholat.  Setelah beres, mc bisik2 sama aku, katanya ketekku keliatan, katanya sweaterku bolong di bagian armpit sebelah kiri.  Hah?! Yang bener?  Kuraba bagian itu, eh iya.  Bolong.  Yak ampyuun…I could feel it, kayaknya bolongnya sekitar 2cm gitu.  Gile, maluin banget.  It was a disaster! Aku jadi ga pede buat balik lagi to join the party.  Kata mc, dah ga papa, jangan ngangkat tangan ketinggian aja.  Oh well, untung aja aku udah cukur rambut di ketek beberapa hari sebelumnya.  Jadi biarpun bolong, ga terlalu bushy keliatannya.  Hiii..jijay dong!

n_n

Comments (1) »

Here I am

So here I am, writing in my own blog.  My own? yea.  Coz I never thought I would have one.  Not ’til I read my sister’s blog, as she mentioned that I should have one, “..maybe you can inspire somebody else,” she said.  I don’t know about the inspiring part, but..here I am, TD….. :D

It’s funny.  After I  read TD’s blog (and that was like, months ago?), I did have the drive to have my own one.  But not strong enough.  Not until few days ago.  I just had this ‘feeling’.  When I think again about my life, sure enough I have lot of stories to tell.  Hopefully. ;). So mari kita potong pitanya.  Cekress….

 n_n

Comments (1) »